Asal usul sejarah gudeg, kuliner legendaris dari Yogyakarta

Asal usul sejarah gudeg, kuliner legendaris dari Yogyakarta

  • Jumat, 28 Maret 2025 04:45 WIB
  • waktu baca 2 menit
Asal usul sejarah gudeg, kuliner legendaris dari Yogyakarta
Salah satu menu di Gudeg Mbah Putri Mall SKA Pekanbaru (ANTARA/Annisa Firdausi)

Jakarta (ANTARA) – Gudeg merupakan kuliner khas Yogyakarta yang telah dikenal luas di Indonesia. Makanan ini terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan berbagai rempah, menghasilkan cita rasa manis yang khas. Penyajiannya biasanya dilengkapi dengan nasi putih, ayam, telur, tahu, tempe, dan sambal krecek.

Perpaduan berbagai lauk tersebut semakin memperkaya cita rasa gudeg, menjadikannya sajian yang digemari banyak orang. Kuliner ini tidak hanya populer di Yogyakarta, tetapi juga di berbagai daerah lainnya. Lalu, seperti apa sejarahnya? Simak ulasan berikut ini.

Baca juga: Mengenal gudeg, kuliner yang usianya setua Yogyakarta

Asal usul nama “Gudeg”

Istilah “gudeg” berasal dari bahasa Jawa, yaitu hangudeg atau ngudheg, yang berarti mengaduk. Hal ini merujuk pada proses memasak gudeg yang memerlukan pengadukan terus-menerus agar tidak gosong. Proses ini mencerminkan kesabaran dan ketelatenan, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.​

Sejarah Gudeg

Sejarah gudeg memiliki beberapa versi. Salah satu versi menyebutkan bahwa makanan ini sudah ada sejak Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Saat itu, pembukaan hutan Alas Mentaok menghasilkan banyak nangka dan kelapa, yang kemudian diolah oleh prajurit dan warga menjadi gudeg.

Versi lain mengaitkan kemunculan gudeg dengan penyerangan pasukan Mataram ke Batavia antara tahun 1726-1728. Dikisahkan bahwa para prajurit membawa gudeg sebagai bekal selama perjalanan. Namun, kebenaran versi ini masih diperdebatkan karena gudeg basah tidak tahan lama untuk perjalanan jauh. ​

Catatan tertulis mengenai gudeg juga ditemukan dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad ke-19. Dalam naskah tersebut, gudeg disebut sebagai salah satu hidangan yang disajikan kepada tamu, menunjukkan bahwa makanan ini telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Jawa sejak lama.

Awalnya, gudeg yang dikenal adalah gudeg basah yang disajikan dengan kuah santan encer. Seiring waktu, muncul inovasi gudeg kering yang menggunakan sedikit santan, sehingga lebih tahan lama dan cocok dijadikan oleh-oleh.

Selain itu, terdapat variasi gudeg manggar yang menggunakan bunga kelapa sebagai bahan utama. Namun, jenis ini kini sulit ditemukan dan biasanya hanya disajikan di restoran atau hotel berbintang di Yogyakarta.

Keunikan lain dari gudeg terletak pada kemasannya. Secara tradisional, gudeg dikemas dalam besek (wadah anyaman bambu) atau kendil (wadah tanah liat), yang menambah nilai estetika sekaligus mempertahankan cita rasanya. Dengan sejarah panjang dan keunikannya, gudeg tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga representasi budaya dan tradisi Yogyakarta yang patut dilestarikan.

Baca juga: Penjualan kian merosot, produsen gudeg Yogya optimalkan jualan online

Baca juga: Tiga warisan Bantul ditetapkan jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    DKI antisipasi titik wisata pada hari kedua Lebaran

    English Terkini Terpopuler Top News Pilihan Editor Pemilu Otomotif Antara Foto Redaksi Lebaran DKI antisipasi titik wisata pada hari kedua Lebaran Senin, 31 Maret 2025 15:18 WIB waktu baca 2…

    Jalan Tol Cipali ramai lancar di hari lebaran

    English Terkini Terpopuler Top News Pilihan Editor Pemilu Otomotif Antara Foto Redaksi Lebaran Jalan Tol Cipali ramai lancar di hari lebaran Senin, 31 Maret 2025 15:17 WIB waktu baca 2…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *