
Saran psikolog bagi perantau yang tak mudik selama libur Lebaran
- Kamis, 27 Maret 2025 11:16 WIB
- waktu baca 2 menit

Jakarta (ANTARA) – Di antara perantau yang tidak bisa mudik untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman mungkin ada yang khawatir karena akan melewatkan liburan sendirian di rantau.
Psikolog klinis Nena Mawar Sari menyampaikan bahwa perantau yang khawatir akan merasa kesepian karena tidak mudik selama libur Lebaran bisa merencanakan aktivitas untuk mengisi libur hari raya.
“Sebenarnya kesepian itu adalah pilihan, kita bisa merasa kesepian atau tidak. Kalau tidak mau merasa kesepian, kita bisa mempersiapkan lebih awal aktivitas-aktivitas yang akan kita lakukan selama tidak mudik,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.
“Misalnya staycation kemana…,” kata psikolog klinis dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya di Kota Denpasar itu.
Perantau yang tidak mudik bisa pula memanfaatkan waktu libur untuk beristirahat total atau melakukan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak bisa dilakukan karena kesibukan kerja.
“Bisa untuk momen istirahat total, karena selama ini mungkin dikejar deadline, mungkin bisa berolahraga, refleksi diri dengan journaling, meditasi,” kata Nena.
Baca juga: Aktris Michelle Ziudith tidak mudik Lebaran tahun ini
Nena mengemukakan bahwa tidak semua orang yang tidak bisa mudik selama libur Lebaran akan merasa tertekan.
“Tapi, kalau misalkan dia pulangnya hanya bisa satu tahun sekali atau mungkin satu-satunya kesempatan bertemu keluarga besar hanya di momen Lebaran itu saja dan mungkin relasi dengan keluarganya enggak begitu bagus, ya mungkin akan menimbulkan stres,” kata dia.
“Stresnya bukan karena enggak bisa pulang, tapi mungkin karena takut dibicarain, dikomentarin sama keluarga besar lainnya, mungkin disindir di grup keluarga. Nah, itu yang mungkin bisa bikin stres,” ia menambahkan.
Baca juga: Siasat merespons pertanyaan-pertanyaan mengusik semasa Lebaran
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Ratih Ibrahim mengemukakan bahwa ada baiknya perantau yang tidak bisa mudik menata pikiran dan hati serta berusaha bersikap realistis.
“Menata pikiran dan hati yang baik untuk meminimalkan drama hidup diri sendiri akibat perasaan-perasaan yang muncul,” kata Ratih saat dihubungi ANTARA.
“Faktanya tidak bisa pulang kampung, alasannya valid, kita terima dengan ikhlas. Keluarga kan tidak hanya yang di kampung. Dimana tempat kita berada, kita punya keluarga, apakah saudara sepupu, saudara sekampung, atau saudara karena rekan sekerja, dan lain-lain. Intinya dimana-mana kita tetap punya keluarga,” katanya.
Baca juga: Pemerintah bagikan 3.400 buku kepada anak pemudik di Stasiun Gambir
Baca juga: KAI Commuter angkut 5,3 juta penumpang pada awal masa angkutan Lebaran
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2025
Komentar
Berita Terkait
BPD Sumbar fokus garap potensi perantau dan UMKM
- 5 Juli 2024
Rekomendasi lain
Rute KRL Jabodetabek lengkap berikut tarifnya
- 2 Agustus 2024
Rincian tabel pinjaman BRI KUR dan Non KUR terbaru 2024
- 3 Desember 2024
Cara praktis salin kontak WhatsApp via kode QR
- 3 Juli 2024
Cara mudah cek sertifikat tanah via online
- 7 Agustus 2024
Cara hadapi debt collector pinjol
- 17 Juli 2024
15 sandi dalam Pramuka
- 9 Agustus 2024
Berkualitas harga terjangkau, ini daftar 8 sepatu lari lokal
- 19 September 2024