Kampung Asei Besar penghasil lukisan kulit kayu bernilai seni budaya

Kampung Asei Besar penghasil lukisan kulit kayu bernilai seni budaya

  • Senin, 3 Februari 2025 10:03 WIB
Kampung Asei Besar penghasil lukisan kulit kayu bernilai seni budaya
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Fred Modouw. (ANTARA/Agustina Estevani Janggo)

Jayapura (ANTARA) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua menyatakan bahwa Kampung Asei Besar yang terletak di Distrik Sentani Timur, dikenal sebagai sentra penghasil lukisan kulit kayu yang memiliki nilai seni dan budaya tinggi.

Kepala Bidang Kebudayaan Fred Modouw kepada ANTARA di Sentani, Minggu, mengatakan bahwa seni lukisan ini telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya suku asli di daerah ini.

“Lukisan kulit kayu dari Kampung Asei Besar memiliki keunikan tersendiri, baik dari motif maupun teknik pembuatannya, yang membedakan dari seni lukis lainnya,” katanya.

Baca juga: Menengok Kampung Asei, rumahnya perajin kriya kulit kayu di Papua

Menurut Fred, lukisan kulit kayu atau dalam bahasa Sentani disebut “Khombouw” ini, biasanya dibuat dengan menggunakan kulit kayu khas yang diolah secara tradisional, dan proses pembuatannya melibatkan beberapa tahapan, mulai dari mengambil kulit kayu, mengeringkan, pewarnaan hingga memberi motif.

“Setiap motif yang dihasilkan memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat setempat, juga sebagai warisan budaya dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” ujarnya.

Dia menjelaskan banyak wisatawan dan kolektor seni dari dalam maupun luar negeri tertarik untuk membeli karya seni ini, sebagai oleh-oleh juga koleksi pribadi.

Baca juga: Lukisan kulit kayu dari Jayapura menembus pasar internasional

“Potensi ekonomi dari seni lukisan kulit kayu ini sangat besar, sehingga perlu terus dikembangkan dan dipromosikan,” katanya lagi.

Dia menambahkan bahwa pemerintah terus mendukung para seniman lokal di Kampung Asei Besar agar dapat mempertahankan dan mengembangkan karya seni lukisan kulit kayu ini.

“Salah satu upaya yang dilakukan yakni memperkenalkan seni lukisan kulit kayu ke pasar yang lebih luas, melalui berbagai pameran seni dan budaya,” ujar Fred.

Baca juga: Pewaris seni lukis cukilan kayu khas Imlek promosikan warisan budaya

Baca juga: Perajin Bantul olah limbah kayu jadi kerajinan lukisan tiga dimensi

Pewarta: Agustina Estevani Janggo
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    Arus Balik Lebaran, BPJPH Minta Masyarakat Cermat Pilih Oleh-oleh Halal

    Jakarta – Momentum arus balik usai Idulfitri kerap dimanfaatkan masyarakat untuk membawa oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat. Dalam kondisi ini, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mengingatkan pentingnya memastikan kehalalan…

    Kala Mensos Halalbihalal dengan Petugas Cleaning Service

    Jakarta – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan halalbihalal dadakan di lingkungan Kementerian Sosial RI. Kegiatan ini digelar sederhana di Selalu Ada Kopi, Kantor Kementerian Sosial, bersama para petugas…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *