CORE: Penghentian impor empat komoditas harus dilakukan hati-hati

CORE: Penghentian impor empat komoditas harus dilakukan hati-hati

  • Jumat, 17 Januari 2025 17:04 WIB
CORE: Penghentian impor empat komoditas harus dilakukan hati-hati
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (keempat kiri) berbincang bersama Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono (ketiga kanan), Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika (kiri), Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti (kedua kiri), Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi (ketiga kiri), Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Ali Jamil (kedua kanan) dan Sekretaris Pelaksana Harian Kemenko Bidang Pangan Kasan (kanan) usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas Penetapan Neraca Komoditas Pangan Tahun 2025 di Jakarta, Senin (9/12/2024). Dalam rapat tersebut pemerintah sepakat untuk menghentikan impor sejumlah komoditas pertanian pada 2025, di antaranya beras untuk konsumsi, gula untuk konsumsi, jagung untuk pakan ternak, serta garam untuk konsumsi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww

Pemerintah harus betul-betul melakukan kalkulasi kecukupan suplai dalam negeri.

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan Pemerintah untuk berhati-hati saat mengambil langkah kebijakan penghentian impor empat komoditas pangan, yaitu beras, jagung, gula, dan garam.

“Pemerintah harus betul-betul melakukan kalkulasi kecukupan suplai dalam negeri,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, perbaikan atau improvement pada neraca komoditas yang ada harus dilihat atau ditinjau kembali. Jangan sampai, larangan impor tersebut dilakukan secara tidak hati-hati, sehingga meningkatkan harga di dalam negeri karena suplai yang tidak cukup atau tidak sebanding dengan tingkat permintaannya.

Faisal juga mengingatkan, komoditas pangan seperti jagung dan gula juga dibutuhkan untuk industri. Jangan sampai larangan impor komoditas pangan tersebut justru membahayakan produksi atau industri manufaktur yang ada yang membutuhkan bahan-bahan pangan tersebut sebagai input.

“Jadi, perlu dilihat secara hati-hati,” ujar Faisal menegaskan.

Apabila dilihat secara total agregat, kata Faisal, bisa jadi jumlah komoditas jagung memang cukup untuk pemenuhan kebutuhan secara mandiri atau self-sufficient. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa kalkulasi atau perhitungan tersebut bisa saja misleading karena kecukupan dilihat secara agregat padahal komoditas jagung memiliki banyak jenis.

“Jadi yang self-sufficient itu yang mana. Jenis yang lain, bisa jadi itu justru kekurangan,” ujar dia.

Faisal mencontohkan, jagung yang banyak diproduksi dalam negeri bisa jadi ditujukan untuk pakan ternak yang mencukupi. Di sisi lain, jagung untuk produksi yang digunakan untuk industri makanan dan minuman bisa jadi kekurangan.

Apabila perhitungan yang tidak tepat tersebut terjadi, industri yang bergantung pada suplai jagung dikhawatirkan bisa collapse atau tingkat daya saing (competitiveness) menjadi menurun karena kekurangan pasokan ketika diberlakukan larangan impor.

Hal yang sama juga berlaku pada komoditas gula yang memiliki beberapa jenis seperti gula rafinasi untuk industri dan gula untuk konsumsi langsung, sehingga perhitungan kecukupan secara cermat dibutuhkan. Apalagi, Indonesia termasuk salah satu negara yang menjadi importir gula terbesar di dunia.

“Setahu saya, gula kita impornya masih sangat tinggi. Kita kan importir terbesar di dunia, salah satu yang terbesar. Kita mungkin sekarang nomor tiga, pernah nomor satu. Nah, bagaimana caranya untuk bisa melakukan impor gula pada saat tingkat ketergantungan impornya tinggi. Ini yang perlu dilakukan secara hati-hati,” kata Faisal.

Pemerintah telah memberlakukan larangan impor bagi empat komoditas pangan, yakni beras, jagung, gula, dan garam. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau yang biasa disapa Zulhas saat menghadiri sidang Tanwir 1 Aisyiyah, di Jakarta, Kamis (16/1).

Zulhas berharap kebijakan larangan impor tersebut dapat mewujudkan cita-cita Indonesia untuk melakukan swasembada pangan, karena Indonesia sangat potensial untuk melakukan itu.

Salah satu upayanya, kata Zulhas, dengan memperkuat para petani melalui memberikan penyuluhan, dukungan finansial, revisi regulasi, pemberian bibit unggul, hingga penguatan rantai pasok.

Baca juga: Bapanas: Larangan impor pangan mempertimbangkan proyeksi produksi 2025

Baca juga: Menko Pangan paparkan larangan impor 4 komoditas topang swasembada

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    Menlu: Pemerintah kirim bantuan gempa ke Myanmar pada Kamis

    English Terkini Terpopuler Top News Pilihan Editor Pemilu Otomotif Antara Foto Redaksi Menlu: Pemerintah kirim bantuan gempa ke Myanmar pada Kamis Rabu, 2 April 2025 17:17 WIB waktu baca 2…

    Polisi: Arus kendaraan di tol Jateng dipadati pemudik lokal

    English Terkini Terpopuler Top News Pilihan Editor Pemilu Otomotif Antara Foto Redaksi Polisi: Arus kendaraan di tol Jateng dipadati pemudik lokal Rabu, 2 April 2025 17:16 WIB waktu baca 2…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *