
Menlu Sugiono: Reformasi multilateral jadi prioritas diplomasi RI
- Sabtu, 11 Januari 2025 00:29 WIB

Jakarta (ANTARA) – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan reformasi multilateral akan menjadi salah satu agenda prioritas diplomasi Indonesia demi mewujudkan perkembangan dunia yang lebih inklusif dan adil bagi semua negara.
“Indonesia akan berada di lini depan penggerak reformasi multilateral,” katanya dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) di Jakarta, Jumat.
Dalam hal ini, Menlu Sugiono menekankan pentingnya reformasi multilateral untuk mewujudkan “Perserikatan Bangsa-Bangsa yang fit-for-purpose; arsitektur keuangan internasional yang tangguh dan inklusif; serta memberi ruang bagi kepemimpinan Negara-Negara Selatan (Global South)”.
Menurutnya, dunia saat ini menghadapi krisis yang saling berkaitan dan tidak ada kawasan manapun yang sepenuhnya terbebas dari konflik dan ketegangan. Sayangnya, kata dia, tatanan global yang ada saat ini masih belum mampu merespons dinamika konflik dunia yang semakin menegang.
Kondisi global dan tantangan multilateralisme pun diperparah dengan krisis iklim yang menuntut respons bersama dari semua negara, ucap Menlu RI.
“Multilateralisme seperti kehilangan daya. Hukum internasional dan Piagam PBB semakin tak dihormati. Arsitektur ekonomi dunia pun tak lagi sesuai untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan sebagian besar negara-negara global,” tutur Sugiono.
Dengan demikian, melalui peran aktif dalam berbagai forum multilateral, Indonesia akan terus mendorong penyempurnaan tata kelola global demi memastikannya tetap relevan menjawab tantangan zaman.
Dukungan RI terhadap multilateralisme juga tampak dari komitmen memenuhi capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, di mana kemajuan Indonesia memenuhi capaian SDGs “berada pada jalurnya, termasuk dalam isu lingkungan dan transisi energi,” kata dia.
Ia pun memandang setiap negara memiliki “tanggung jawab yang sama dalam bentuk berbeda” dalam menangani krisis iklim, karena negara-negara berkembang tak semaju negara-negara besar terkait kemampuan mitigasi iklim dalam berbagai aspek.
“Untuk itu, kewajiban negara-negara terhadap perubahan iklim juga tak bisa dipukul rata. Negara-negara maju dan kuat harus membantu dan memberdayakan negara-negara berkembang dalam isu ini,” kata Sugiono.
Baca juga: Seruan mereformasi struktur PBB dominasi pekan Sidang Umum ke-79
Baca juga: Akankah reformasi PBB jadi solusi berbagai konflik di dunia?
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2025
Komentar
Berita Terkait
PM Li: Arab Saudi prioritas diplomasi China di Timur Tengah
- 12 September 2024
Sekitar 73 ribu WNI direpatriasi sepanjang 2021
- 6 Januari 2022
Ketahanan kesehatan nasional jadi prioritas diplomasi RI
- 6 Januari 2021
Diplomasi ekonomi, prioritas pertama polugri Indonesia
- 29 Oktober 2019
Diplomasi kemanusiaan – perdamaian prioritas kebijakan luar negeri
- 19 Desember 2018
Rekomendasi lain
Profil Dokter Jihan Nurlela, cawagub Lampung dalam Pilkada 2024
- 7 September 2024
Lirik lagu Virgoun – “Surat Cinta Untuk Starla”
- 13 Agustus 2024
Mengenal sosok tujuh Pahlawan Revolusi
- 24 September 2024
Begini cara transfer saldo GoPay ke DANA dan sebaliknya
- 9 Agustus 2024
Cara cek penerima program PIP Desember 2024
- 12 Desember 2024
Cara buka rekening ATM BRI offline dan online
- 1 Agustus 2024
Profil Sulaiman Agusto, Cawagub Pilkada Sulawesi Tengah 2024
- 5 September 2024
Profil Victor Mailangkay, calon wakil gubernur Sulawesi Utara 2024
- 5 September 2024