
Inggris dikecam soal pemangkasan bantuan kesehatan dan paramedis
- Selasa, 7 Januari 2025 01:45 WIB

London (ANTARA) – Inggris mendapat kecaman akibat mengurangi bantuan kesehatan ke sejumlah negara yang paling rentan di dunia, sementara pada saat yang sama merekrut ribuan perawat negara-negara tersebut, menurut analisis baru dari Royal College of Nursing (RCN) yang dirilis pada Senin (6/1).
Langkah ini disebut sebagai “dua pukulan berat” bagi sistem kesehatan yang sudah rapuh dan sedang berjuang dengan kekurangan tenaga kerja yang parah.
Antara tahun 2020 dan 2023, bantuan Inggris untuk proyek-proyek terkait kesehatan di negara “daftar merah” yakni negara yang kekurangan tenaga kerja kesehatan paling kritis, terjun bebas hampir 63 persen, turun dari 484 juta poundsterling (607 juta dolar AS atau sekitar Rp9,8 triliun) menjadi 181 juta poundsterling (227 juta dolar AS atau sekitar Rp3,67 triliun).
Pengeluaran untuk inisiatif yang bertujuan memperkuat tenaga kerja kesehatan di negara-negara tersebut turun bahkan lebih drastis, yaitu 83 persen, dari 24 juta pounsterling (sekitar Rp485,5 miliar) menjadi hanya 4 juta poundsterling (sekitar Rp80,9 miliar).
Meski terjadi pemotongan itu, jumlah perawat dari negara-negara tersebut yang terdaftar di Inggris Raya meningkat pesat.
Baca juga: Inflasi Inggris Raya naik 2,3 persen pada Oktober 2024
Baca juga: Partai Buruh akhiri 14 tahun era Konservatif di Inggris Raya
Pada September 2020, terdapat 11.386 perawat dari negara-negara “daftar merah” terdaftar di Inggris Raya. Pada September 2024, jumlah tersebut melonjak menjadi 32.543, yang mencatatkan peningkatan hampir tiga kali lipat.
Pemotongan anggaran ini awalnya diprakarsai oleh pemerintah Konservatif di bawah Boris Johnson, yang mengurangi anggaran bantuan luar negeri dari 0,7 persen dari pendapatan nasional bruto (GNI) menjadi 0,5 persen, yang berarti pengurangan sebesar 4 miliar poundsterling (sekitar Rp80,9 triliun).
Pada anggaran bulan Oktober, Partai Buruh memilih untuk mempertahankan pengeluaran yang lebih rendah, yang memicu kritik dari para pendukung pembangunan internasional dan profesional kesehatan.
RCN mendesak pemerintah Partai Buruh untuk membatalkan pemotongan bantuan tersebut, dan fokus untuk meningkatkan penambahan perawat dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada rekrutmen dari luar negeri.
Sumber: Anadolu
Penerjemah: Primayanti
Editor: Chandra Hamdani Noor
Copyright © ANTARA 2025
Komentar
Berita Terkait
Kate Middleton rekam pesan Natal spesial untuk acara televisi
- 22 Desember 2024
Inflasi Inggris Raya naik 2,3 persen pada Oktober 2024
- 21 November 2024
Inggris akan larang rokok eletrik sekali pakai mulai Juni 2025
- 25 Oktober 2024
Rekomendasi lain
Jalur alternatif hindari Ganjil-Genap Jakarta
- 9 Juli 2024
Mengenal struktur organisasi Badan Gizi Nasional
- 20 Agustus 2024
Gaji pokok PNS berdasarkan golongan tahun 2024
- 2 September 2024
Tidak ribet, ini cara cek pajak kendaraan via online
- 20 Agustus 2024
Cara monetisasi akun Youtube untuk hasilkan uang
- 4 Juli 2024
Rincian tabel pinjaman BRI KUR dan Non KUR terbaru 2024
- 3 Desember 2024
Jadwal dan syarat pendaftaran KPPS Pilkada 2024
- 2 September 2024
Lirik lagu Rio Clappy “Bunga Abadi”
- 12 September 2024