Studi: Susu murni-lemak susu tak berdampak besar bagi metabolisme
- Kamis, 2 Januari 2025 15:05 WIB
Penelitian ini menjawab kekhawatiran yang telah lama ada tentang susu murni dan lemak susu
Beijing (ANTARA) – Konsumsi susu murni dan lemak susu dalam jangka panjang tidak secara signifikan meningkatkan berat badan atau beban lipid (zat lemak) darah pada tikus, menurut studi baru yang dilakukan oleh para peneliti China.
Studi itu, yang dilakukan oleh para peneliti dari institut pangan dan gizi di bawah Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China, Universitas Tsinghua, dan Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS) baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal iMeta.
Susu merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 6 miliar orang di seluruh dunia sehingga menjadikannya sebagai salah satu bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi.
Menurut studi tersebut, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Namun, temuan terbaru mengindikasikan bahwa lemak susu kemungkinan tidak berkontribusi terhadap risiko ini sehingga efek jangka panjang dari konsumsi lemak susu terhadap metabolisme lipid masih belum jelas.
Untuk mengeksplorasi hal ini lebih jauh, para peneliti melakukan percobaan selama tujuh pekan pada tikus, membagi tikus-tikus itu menjadi dua kelompok dengan satu kelompok menjalani pola makan normal, sementara yang lain menjalani pola makan tinggi lemak. Kedua kelompok menerima dosis harian susu murni sebanyak 15 mililiter atau lemak susu sebanyak 0,5 mililiter. Jumlah itu setara dengan manusia yang mengonsumsi lebih dari 2 kilogram susu atau 100 gram lemak susu setiap harinya selama lima tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik susu murni maupun lemak susu tidak secara signifikan memengaruhi berat badan atau beban lipid darah pada tikus, terlepas dari tipe pola makan mereka.
Studi itu juga menemukan bahwa susu murni dan lemak susu meningkatkan keanekaragaman mikrobiota usus dan meningkatkan keberadaan bakteri dan metabolit utama yang berkaitan dengan regulasi lipid.
“Penelitian ini menjawab kekhawatiran yang telah lama ada tentang susu murni dan lemak susu,” ujar Wang Jiaqi, seorang peneliti di CAAS.
“Penelitian ini juga memberikan wawasan berharga bagi industri makanan dan kebijakan nutrisi global, serta memaksimalkan efisiensi sumber daya makanan,” ujarnya.
Temuan tersebut berkontribusi terhadap upaya untuk memahami efek jangka panjang susu murni dan lemak susu terhadap kesehatan lipid darah, kata Wang.
Pewarta: Xinhua
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2025
Komentar
Berita Terkait
Ini bukti jualan susu sapi murni menjanjikan
- 25 Agustus 2018
Minum Susu Murni Pasca Kebakaran di Bio Farma
- 13 Agustus 2008
Permintaan Susu Murni Tinggi, Harga Naik
- 1 Juli 2007
Rekomendasi lain
Gaji dan tunjangan anggota Bawaslu, segini besarannya!
- 24 Oktober 2024
Cara menghitung pembagian warisan anak menurut Islam
- 15 Agustus 2024
Lirik lagu “APT” oleh Ros dan Bruno Mars
- 22 Oktober 2024
Kapan pelantikan gubernur dan wakil gubernur terpilih Pilkada 2024?
- 27 Desember 2024
Sempat diragukan, ternyata begini silsilah keturunan Gus Miftah
- 5 Desember 2024
Kapan Maulid Nabi 2024 diperingati?
- 15 September 2024
Lirik lagu Rio Clappy “Bunga Abadi”
- 12 September 2024
Lirik lagu “Pelangi” dari Boomerang
- 11 September 2024