
Sakuranesia perkuat dialog Islam-Buddha di Kuil Miidera Jepang
- Selasa, 24 Desember 2024 07:04 WIB

Jakarta (ANTARA) – Yayasan Sakuranesia, organisasi berbasis di Indonesia yang fokus pada pendidikan dan kebudayaan, mengadakan kunjungan bersejarah ke Kuil Miidera, salah satu dari empat kuil besar di Jepang..
Kunjungan yang difasilitasi oleh Profesor Ito tersebut bertujuan mendorong dialog antara Islam dan Buddha, sejalan dengan misi perdamaian dunia yayasan tersebut yang bertajuk “We Are All One”.
“Melalui dialog ini, kami ingin belajar tentang Islam dan memperdalam pemahaman bersama. Kami berharap dapat berkontribusi pada pengembangan persahabatan kedua negara, tidak hanya dalam aspek agama tetapi juga budaya dan seni,” kata Kepala Pendeta ke-164 Kuil Miidera, Chori Geka Toshihiko Fuke, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dalam pertemuan tersebut Kepala Pendeta memberikan kaligrafi tulisan tangan sebagai simbol persahabatan kepada pendiri Yayasan Sakuranesia Society Tovic dan Sakura Ijuin.
Tovic menyampaikan harapannya agar dialog di Miidera dapat mempererat keharmonisan antara Indonesia dan Jepang.
“Kami ingin mengenalkan Islam sebagai agama penuh kasih sayang dan cinta kasih, yang melayani umat manusia dan alam. Dialog ini adalah langkah penting dalam menciptakan harmoni negeri antarbangsa,” katanya.
Baca juga: Yayasan Sakuranesia pererat hubungan pendidikan Indonesia-Jepang

Kunjungan ini juga memperlihatkan keindahan Kuil Miidera, yang terkenal dengan harta nasional seperti Kondo (Aula Emas), pagoda tiga tingkat, dan menara lonceng yang dikenal sebagai “Lonceng Senja Miidera”.
Dari lokasi yang tinggi, pengunjung dapat menikmati pemandangan Danau Biwa dan keindahan alam di setiap musim
Delegasi dipandu langsung oleh Kepala Pendeta mengelilingi kompleks kuil yang memiliki sejarah lebih dari 1.300 tahun, menawarkan pemandangan Danau Biwa dan keindahan alam yang memukau.
Dialog Islam dan Buddha ini dimediasi oleh Profesor Ito, seorang akademisi dan peneliti seni yang memiliki latar belakang sebagai doktor farmasi dari Universitas Kyoto.
Sebagai National Geographic Explorer dan Dosen Universitas Osaka, Profesor Ito memiliki pengalaman mendalam dalam penelitian seni dan budaya. Dengan keahliannya, ia berperan besar dalam menciptakan forum diskusi yang bermakna antara kedua agama.
Baca juga: Sakuranesia targetkan 500 orang Jepang datang di JFC 2025
Baca juga: Sakura hubungkan budaya RI dan Jepang lewat Sakuranesia Society
Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2024
Komentar
Berita Terkait
Yayasan Sakuranesia pererat hubungan pendidikan Indonesia-Jepang
- 20 Desember 2024
Sakuranesia targetkan 500 orang Jepang datang di JFC 2025
- 5 Agustus 2024
Kembang api seniman Jepang hias visual Jember Fashion Carnaval
- 23 Februari 2024
Kostum Garuda hadir di Tokyo Lights 2023
- 11 November 2023
Rekomendasi lain
Berapa gaji pendamping desa Kemendes?
- 10 Desember 2024
Kode transfer & SWIFT Bank Mandiri beserta fungsinya
- 25 Juli 2024
Apakah menonton film porno termasuk zina dalam Islam?
- 15 September 2024
Hukum meninggalkan shalat Jumat 3 kali berturut-turut
- 29 Agustus 2024
Rincian tarif Tol Cisumdawu
- 15 Agustus 2024
Profil Dharma Pongrekun calon gubernur Independen Jakarta
- 3 September 2024
Lirik lagu Lady Gaga dan Bruno Mars “Die With a Smile”
- 27 Agustus 2024
Cara praktis salin kontak WhatsApp via kode QR
- 3 Juli 2024