
Pakar nilai SDM riset nuklir Indonesia saat ini berada di level dunia
- Kamis, 5 Desember 2024 18:04 WIB

Jakarta (ANTARA) – Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Zaki Su’ud menilai kemampuan sumber daya manusia (SDM) ketenaganukliran Indonesia saat ini berada pada level dunia.
“Menurut saya sekarang ini eranya sudah sangat baik, dan di salah satu sisi kita di dunia, di level internasional termasuk IAEA (Badan Energi Atom Internasional) itu sudah cukup tinggi,” katanya di sela-sela penganugerahan Siwabessy Award dan Memorial Lecture 2024 di Jakarta, Kamis.
Dalam ruang lingkup Asia Tenggara, Peraih Siwabessy Award 2024 itu mengatakan Indonesia dipercaya sebagai pemimpin, dan para penelitinya kerap diundang untuk membagikan ilmunya kepada negara-negara tetangga.
Baca juga: Ahli: Indonesia memiliki potensi nuklir lebih baik dibanding Jepang
Hal ini, lanjut dia, juga dibuktikan dengan banyaknya periset Indonesia di bidang nuklir yang mampu mempublikasikan berbagai hasil penelitiannya di berbagai jurnal internasional kelas satu.
“Kita nggak kebayang itu. Mungkin 20 tahun yang lalu, kita mem-publish di jurnal first level itu setengah mati, sekarang itu tim kita ikut termasuk juga, dan di BRIN sekarang mereka banyak sekali,” ujarnya.
Oleh karena itu, Prof Zaki memandang Indonesia memiliki masa depan yang cerah dalam bidang ketenaganukliran jika meninjau dari sisi kualitas SDM-nya.
Baca juga: Kolaborasi RI-IAEA dorong penguatan infrastruktur energi nuklir dunia
Dalam kesempatan yang sama, Ahli Nuklir Indonesia yang kini menjadi bagian dari Nippon Advanced Information Service (NAIS), Tokyo City University (TCU), Jepang, Prof Liem Peng Hong menekankan SDM ketenaganukliran Indonesia yang berkualitas itu tidak boleh disia-siakan.
Ia mendorong Pemerintah RI dapat memberikan wadah yang sesuai agar para talenta riset nuklir Indonesia dapat mengaplikasikan kemampuannya dan berkontribusi untuk pembangunan bangsa dan negara.
“Ini harus ada wadah, harus ada pendukung potensi SDM ini. Karena kalau hanya riset saja tanpa ada aplikasi yang jelas di industri nuklir, itu saya kira mereka akan berhenti di litbang, berhenti di universitas, tidak ada hasil nyata yang nantinya akan dinikmati oleh masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: Bapeten gelar latihan penanggulangan kedaruratan nuklir nasional 2024
Oleh sebab itu, Prof Liem berharap hal ini harus menjadi tantangan yang dapat diselesaikan oleh Pemerintah RI, sehingga Indonesia dengan seluruh talenta risetnya dapat berkembang dan maju menuju Indonesia Emas 2045.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024
Komentar
Berita Terkait
Iran aktifkan mesin sentrifugal baru terkait resolusi terkait IAEA
- 22 November 2024
Total kapasitas PLTN China duduki peringkat teratas dunia
- 14 November 2024
Bapeten gelar latihan penanggulangan kedaruratan nuklir nasional 2024
- 25 September 2024
Kolaborasi RI-IAEA dorong penguatan infrastruktur energi nuklir dunia
- 23 September 2024
Kazakhstan adakan referendum bangun pembangkit listrik tenaga nuklir
- 2 September 2024
BRIN-Undip gagas riset tentang pengembangan PLTN
- 28 Juli 2024