
BKKBN: Lewat intervensi, otak anak stunting berkembang hingga 20 tahun
- Rabu, 13 November 2024 22:06 WIB

Kemudian yang perkembangan otak itu memang dia sudah agak menurun, tetapi nanti dia akan meningkat lagi
Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan otak anak yang dinyatakan stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau usia 0-2 tahun masih bisa berkembang hingga usia 20 tahun atau 8.000 HPK.
“Walaupun setelah pemeriksaan di rumah sakit dia (anak) dikatakan, diagnosisnya stunting, sebenarnya dengan teori 8.000 HPK, pertanyaannya otak masih bisa diselamatkan enggak? Masih. Tingginya masih bisa dikejar enggak? Masih,” kata Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Irma Ardiana dalam temu media di Jakarta, Rabu.
Walaupun perkembangan otak anak yang didiagnosis stunting tidak sama dengan anak yang normal, kata dia, masih ada potensi untuk tumbuh dan berkembang.
Baca juga: Kemenko PMK: 1.000 HPK berpengaruh ciptakan kualitas SDM berkelanjutan
“Kalau dari tinggi, anak-anak kita itu memang 50 persen pesatnya itu ada di usia lima tahun, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa nanti ada kurva pertumbuhannya, itu pada saat mereka pubertas. Kemudian yang perkembangan otak itu memang dia sudah agak menurun, tetapi nanti dia akan meningkat lagi,” ujar Irma.
Meski pertumbuhan anak yang didiagnosis stunting cenderung lambat, tetapi menurut Irma, potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang masih bisa ditingkatkan melalui stimulasi dengan catch up growth (mengejar pertumbuhannya).
“Jadi catch up growth itu adalah ketika dia memang dengan definisi penegakan diagnosis oleh dokter, distimulasi kuat jadi diajak bermain, kemudian misal kelemahannya pada bicaranya atau apa, kita punya referensi yang baik ya di Jamaica (Amerika Utara),” paparnya.
Baca juga: BKKBN: Perlu intervensi serentak atasi stunting 3 daerah di Lampung
Ia mengemukakan di Jamaica, anak-anak dengan stunting dikelompokkan menjadi dua. Kelompok pertama hanya diintervensi melalui pemberian makanan, sedangkan kelompok kedua diberikan stimulasi.
“Dari dua ini, yang diberikan stimulasi menunjukkan perkembangan lebih baik daripada yang hanya diberikan makanan. Artinya, masih ada potensi perkembangan otak bagi si anak ketika diberikan stimulasi khusus, jadi memang lebih baik terus distimulasi sampai usia 20 tahun,” tuturnya.
Irma juga menyebutkan salah satu cara untuk mempercepat penurunan stunting yakni melalui pola asuh, karena menentukan dua hal. Pertama yakni apakah anaknya mendapatkan gizi sejak dalam kandungan. Kedua, apakah anaknya terlindungi dari risiko infeksi.
Baca juga: Kemenkes: Intervensi PMT harus tepat sasaran untuk cegah stunting
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2024
Komentar
Berita Terkait
BKKBN Jateng gandeng TP PKK tekan angka kasus stunting
- 6 November 2024
55 lansia di Aceh Tengah wisuda sekolah lansia BKKBN
- 1 November 2024
Menteri KPK/BKKBN roadshow percepatan stunting di Lebak
- 29 Oktober 2024